<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cahkotagajah Neh...</title>
	<atom:link href="http://cahkotagajah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahkotagajah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2008 09:53:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cahkotagajah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cahkotagajah Neh...</title>
		<link>http://cahkotagajah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cahkotagajah.wordpress.com/osd.xml" title="Cahkotagajah Neh..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://cahkotagajah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PENGAWETAN HIJAUAN UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA</title>
		<link>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/11/07/pengawetan-hijauan-untuk-pakan-ternak-ruminansia/</link>
		<comments>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/11/07/pengawetan-hijauan-untuk-pakan-ternak-ruminansia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 09:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkotagajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkotagajah.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[PENGAWETAN HIJAUAN UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA Ada beberapa proses pengawetan yang umum di lakukan adalah : Hay : hijauan yang dikeringkan sehingga kandungan air 12-20%, disebut juga sale hijauan Silase : hijauan yang difermentasi sehingga hijauan tersebut tetap awet karena terbentuk asam laktat. Amoniasi : proses pengawetan hijauan dengan menggunakan amonia. 2. SILASE (SILAGE) Silase [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkotagajah.wordpress.com&amp;blog=4396704&amp;post=24&amp;subd=cahkotagajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">PENGAWETAN HIJAUAN UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA</span></span></p>
<p>Ada beberapa proses pengawetan yang umum di lakukan adalah :<br />
Hay :<br />
hijauan yang dikeringkan sehingga kandungan air 12-20%, disebut juga sale hijauan<br />
Silase :<br />
hijauan yang difermentasi sehingga hijauan tersebut tetap awet karena terbentuk asam laktat.<br />
Amoniasi :<br />
proses pengawetan hijauan dengan menggunakan amonia.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">2. SILASE (SILAGE) </span></span><br />
Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan , limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara , yang biasa disebut dengan Silo, selama sekitar tiga minggu.<br />
Didalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana “bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi.<br />
Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Tujuan pembuatan Silase</span></span><br />
Tujuan utama pembuatan silage adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.<br />
Sayangnya fermentasi yang terjadi didalam silo (tempat pembuatan silase), sangat tidak terkontrol prosesnya, akibatnya kandungan nutrisi pada bahan yang di awetkan menjadi berkurang jumlahnya.. Maka untuk memperbaiki berkurangnya nutrisi tersbut, beberapa jenis zat tambahan (additive) harus di gunakan agar kandungan nutrisi dalam silase tidak berkurang secara drastis, bahkan bisa meningkatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi ternak yang memakannya.</p>
<p>Pembuatan silase dapat juga menggunakan bahan tambahan, yang kegunaan nya tergantung dari bahan tambahan yang akan di pergunakan. Adapun penggunaan bahan tambahan sangat tergantung dari kebutuhan hasil yang ingin di capai.</p>
<p><span style="font-weight:bold;"><span style="text-decoration:underline;">Prinsip Dasar Fermentasi Silase</span></span><br />
Prinsip dasar dari pengawetan dengan cara silase fermentasi adalah  sebagai berikut.<br />
<span style="text-decoration:underline;">Respirasi</span><br />
Sebelum sel-sel di dalam tumbuhan mati atau tidak mendapatkan oksigen, maka mereka melakukan respirasi untuk membentuk energi yang di butuhkan dalam aktivitas normalnya. Respirasi ini merupakan konversi karbohidrat menjadi energi.<br />
Respirasi ini di bermanfaat untuk menghabiskan oksigen yang terkandung, beberapa saat setelah bahan di masukan dalam silo.<br />
Namun respirasi ini mengkonsumsi karbohidrat dan menimbulkan panas, sehingga waktunya harus sangat di batasi.<br />
Respirasi yang berkelamaan di dalam bahan baku silase, dapat mengurangi kadar karbohidrat, yang pada ahirnya bisa menggagalkan proses fermentasi.<br />
Pengurangan kadar oksigen yang berada di dalam bahan baku silase, saat berada pada ruang yang kedap udara yg disebut dengan Silo, adalah cara terbaik meminimumkan masa respirasi ini.<br />
<span id="more-24"></span><strong><span style="text-decoration:underline;">Fermentatsi.</span></strong><br />
Setelah kadar oksigen habis , maka proses fermentasi di mulai. Fermentasi adalah menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase. Sampai dengan kadar pH dimana tidak ada lagi organisme yang dapat hidup dan berfungsi di dalam silo.<br />
Penurunan kadar pH ini dilakukan  oleh lactic acid yang di hasilkan oleh bakteri Lactobacillus.<br />
Lactobasillus itu sendiri sudah berada didalam bahan baku silase, dan dia akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sampai bahan baku terfermentasi. Bakteri ini akan mengkonsumsi karbohidrat untuk kebutuhan energinya dan mengeluarkan lactic acid. Bakteri ini akan terus memproduksi lactic acid dan menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase. Sampi pada tahap kadar pH yang rendah, dimana tidak lagi memungkinkan bakteri ini beraktivitas. Sehingga silo berada pada keadaan stagnant, atau tidak ada lagi perubahan yang terjadi, sehingga bahan baku silase berada pada keadaan yang tetap. Keadaan inilah yang di sebut keadaan terfermentasi, dimana bahan baku berada dalam keadaan tetap , yang disebut dengan menjadi awet.<br />
Pada keadaan ini maka silase dapat di simpan  bertahun-tahun selama tidak ada oksigen yang menyentuhnya</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Bakteri Clostridia</span></strong><br />
Bakteri ini juga sudah berada pada hijauan atau bahan baku silase lainnya, saat mereka di masukan kedalam silo.<br />
Bakteri ini mengkonsumsi karbohidrat, protein dan lactic acid sebagai sumber energi mereka kemudian mengeluarkan Butyric acid, dimana Butyric acid bisa diasosiasikan dengan pembusukan silase<br />
Keadaan yang menyuburkan tumbuhnya bakteri clostridia adalah kurangnya kadar karbohidrat untuk proses fermentasi , yang biasanya di sebabkan oleh : kehujanan pada saat pencacahan bahan baku silase, proses respirasi yang terlalu lama, terlalu banyaknya kadar air di dalam bahan baku. Dan juga kekurangan jumlah bakteri Lactobasillus . Itulah sebabnya kadang di perlukan penggunaan bahan tambahan atau aditive.</p>
<p><span style="font-weight:bold;"><span style="text-decoration:underline;">Tahapan atau Phase yang terjadi pada proses fermentasi Silase</span></span><br />
Proses fermentasi ini (yang biasa di sebut dengan Ensiling), berjalan dalam enam phase,   yaitu:<br />
<span style="font-weight:bold;">Phase I </span><br />
Saat pertama kali hijauan di panen, pada seluruh permukaan hijauan tersebut terdapat organisme aerobic, atau sering disebut sebagai bakteri aerobic, yaitu bacteri yang membutuhkan udara / oksigen.<br />
Sehingga pada saat pertamakali hijauan sebagai bahan pembuatan silase di masukan ke dalam silo, bakteri tersebut akan mengkonsumsi udara/oksigen yang terperangkap di dalam rang silo tersebut. Kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak di inginkan untuk terjadi saat ensiling, karena pada saat yang sama bakteri aerobik tersebut juga akan mengkonsumsi karbohidrat yang sebetulnya di perlukan bagi bakteri lactic acid.<br />
Walaupun kejadian ini nampak menguntungkan dalam mengurangi jumlah oksigen di dalam silo , sehingga menciptakan lingkungan anaerob seperti yang kita kehendaki dalam ensiling, namun kejadian tersebut juga menghasilkan air dan peningkatan suhu / panas. Peningkatan panas yang berlebihan akan mengurangi digestibility kandungan nutrisi, seperti misalnya protein.<br />
Proses perubahan kimiawi yang terjadi pada phase awal ini adalah terurainya protein tumbuhan, yang akan terurai menjadi amino acid, kemudian menjadi amonia dan amines. Lebih dari 50% protein yang terkandung di dalam bahan baku akan terurai.<br />
Laju kecepatan penguraian protein ini (proteolysis), sangat tergantung dari laju berkurangnya kadar pH.<br />
Raung lingkup silo yang menjadi acid, akan mengurangi aktivitas enzym yang juga akan menguraikan protein.<br />
Lama terjadinya proses dalam tahap ini tergantung pada kekedapan udara dalam silo, dalam kekedapan udara yang baik maka phase ini hanya akan bejalan beberapa jam saja. Dengan teknik penanganan yang kurang memadai maka phase ini akan berlangsung sampai beberapa hari bahkan beberapa minggu.<br />
Untuk itu maka tujuan utama yang harus di capai pada phase ensiling ini adalah, semaksimum mungkin di lakukan pencegahan masuknya udara/oksigen, sehingga keadaan anaerobic dapat secepatnya tercapai.<br />
Kunci sukses pada phase ini adalah:<br />
-	Kematangan bahan<br />
-	Kelembaban bahan<br />
-	Panjangnya pemotongan yang akan menentukan kepadatan dalam silo<br />
-	Kecepatan memasukan bahan dalam silo<br />
-	Kekedapan serta kerapatan silo</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Phase II </span><br />
Setelah oksigen habis di konsumsi bakteri aerobic, maka phase dua ini di mulai, disinilah proses fermentasi dimulai, dengan dimulainya tumbuh dan berkembangnya bakteri acetic – acid..<br />
Bakteri tersebut akan menyerap  karbohidrat dan menghasilkan acetic acid sebagai hasil ahirnya.<br />
Pertumbuhan acetic acid ini sangat diharapkan, karena disamping bermanfaat untk ternak ruminansia juga menurunkan kadar pH yang sangat di perlukan pada phase berikutnya.<br />
Penurunan  kadar pH di dalam silo  di bawah 5.0, perkembangan bakteri acetic acid akan menurun dan ahirnya berhenti<br />
Dan itu merupakan tanda berahirnya phase-2. Dalam fermentasi hijauan phase-2 ini berlangsung antara 24 s/d 72 jam.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Phase III </span><br />
Makin menurunnya kadar pH akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan bakteri anaerob lainnya yang memproduksi latic acid. Maka pada phase ini latic acid akan bertambah terus</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Phase IV </span>Dengan bertambahnya jumlah bakteri pada phase 3, maka  karbohidrat yang akan terurai menjadi  latic acid juga makin bertambah.<br />
Latic acid ini sangat di butuhkan dan memegang peranan paling penting dalam proses fermentasi. Untuk pengawetan yang efisien, produksinya harus mencapai 60% dari total organic acid dalam silase.<br />
Saat silase di konsumsi oleh ternak, latic acid akan di manfaatkan sebagai sumber energi ternak tersebut.<br />
Phase 4 ini adalah phase yang paling lama saat ensiling, proses ini berjalan terus sampai kadar pH dari bahan hijauan yang di pergunakan turun terus, hingga mencapai kadar yang bisa menghentikan pertumbuhan segala macam bakteri, dan hijauan atau bahan baku lainnya mulai terawetkan. Tidak akan ada lagi proses penguraian selama tidak ada udara/oksigen yang masuk atau di masukan.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Phase V </span><br />
Pencapaian final kadar pH tergantung dari jenis bahan baku yang di awetkan, dan juga kondisi saat di masukan dalam silo. Hijauan pada umumnya akan mencapai kadar pH 4,5, jagung 4.0.<br />
Kadar pH saja tidaklah merupakan indikasi dari baik buruknya proses fermentasi ini.<br />
Hijauan yang mengandung kadar air di atas 70% akan mengalami proses yang berlainan pada phase 4 ini. Bukan bakteri yang memproduksi latic acid yang tumbuh dan berkembang, namun bakteri clostridia yang akan tumbuh dan berkembang. Bakteri anaerobic ini akan memproduksi butyric acid dan bukan latic acid, yang akan menyebabkan silase berasa asam. Kejadian ini berlangsung karena pH masih di atas 5.0</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Phase VI </span><br />
Phase ini merupakan phase pengangkatan silage dari tempatnya /silo.<br />
Proses pengangkatan ini sangatlah penting namun biasanya tidak pernah di perhatikan oleh para peternak yang kurang berpengalaman.<br />
Hasil riset mengatakan bahwa lebih dari 50% silase mengalami kerusakan atau pembusukan yang di sebabkan oleh bakteri aerobic, saat di keluarkan dari silo.<br />
Kerusakan terjadi hampir di seluruh permukaan silase yang terekspos oksigen, saat berada pada tempat penyimpanan atau pada tempat pakan ternak, setelah di keluarkan dari silo.<br />
Kecermatan kerapihan dan kecepatan penanganan silase setelah dikeluarkan dari silo yang kedap udara sangatlah perlu untuk di cermati, agar tidak terjadi pembusukan.<br />
Proses yang terjadi dalam  6 phase (HARUSNYA DALAM TABEL TAPI NGGAK BISA BIKIN TABEL DI SINI)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Bahan pembuatan Silase</span></span><br />
Bahan untuk pembuatan silase adalah segala macam hijauan dan bahan dari tumbuhan lainnya yang di sukai oleh ternak ruminansia, seperti :<br />
-Rumput, Sorghum, Jagung, Biji-bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan jerami padi, dll</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Syarat hijauan (tanaman) yang dibuat Silase </span></span>:<br />
Segala jenis tumbuhan atau hijauan serta bijian yang di sukai oleh ternak, terutama yang mengandung banyak karbohidrat nya. Untuk penjelasan mengapa dan apa sebabnya lihat di bagian Prinsip Fermentasi</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Bahan tambahan</span></span><br />
Dengan mengetahui prinsip fermentasi dan phase tahapan prosesnya , maka kita bisa memanipulasi proses fermentasi dalam pebuatan silase.<br />
Manipulasi di tujukan untuk mempercepat proses atau untuk meningkatkan dan mempertahankan kadar nutrisi yang terkandung pada bahan baku silase<br />
Manipulasi dengan penambahan bahan additive ini bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.<br />
Pemberian bahan tambahan  secara langsung dengan menggunakan:<br />
- Natrium bisulfat<br />
- Sulfur oxida<br />
- Asam chlorida<br />
- Asam sulfat<br />
- Asam propionat.<br />
- dll.</p>
<p>Pemberian bahan tambahan secara tidak langsung ialah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung karbohidrat yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :<br />
-Molase (melas) :	2,5 kg /100 kg hijauan.<br />
-Onggok (tepung) : 	2,5 kg/100 kg hijauan.<br />
-Tepung jagung : 	3,5 kg/100 kg hijauan.<br />
-Dedak halus : 	5,0 kg/100 kg hijauan.<br />
-Ampas sagu : 	7,0 kg/100 kg hijauan.<br />
Biasanya ini  diperlukan bila bahan dasarnya kurang banyak mengadung karbohidrat</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Proses pembuatan Silase</span></span><br />
Setelah memahami prinsip dasar pembuatan silase, maka proses tahap pelaksanaan pembuatan silase akan menjadi sangat mudah di fahami apa dan mengapanya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Penyiapan Silo</span></span><br />
Silo hanyalah nama sebuah wadah yang bisa di tutup dan kedap udara, artinya udara tidak bisa masuk maupun keluar dar dan ke dalam wadah tersebut. Wadah tersebut juga harus kedap rembesan cairan.<br />
Untuk memenuhi kriteria ini maka bahan plastik merupakan jawaban yang terbaik dan termurah serta sangat fleksibel penggunaannya. Walaupun bahan dari metal, semen dll tetap baik untuk di gunakan.<br />
Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan, mulai kantong keresek plastik ukuran satu kilogram, sampai silo silindris dengan garis tengah 100 meter dan ketinggian 30 meter.<br />
Pilihlah ukuran, bahan serta konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda.<br />
Gentong plastik (biasanya berwarna biru) yang mempunyai tutup yang bisa di kunci dengan rapat, merupakan salah satu pilihan yang terbaik. Karena di samping ukurannya yang sedang sehingga mudah untuk di angkat manusia, kemudian dengan penambahan jumlah bisa memenuhi kebutuhan yang lebih banyak.</p>
<p>Jika ingin membuat dalam jumlah yang banyak sekali gus, maka cara yang termurah adalah dengan menggali tanah. Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian menggunakan kantung plastik yang di jual meteran, sehingga penutupannya bisa dilakukan dengan sangat rapat.</p>
<p>Prinsip yang harus di perhatikan adalah, saat membuka dan memberikan silase pada ternak, maka silo tersebut akan kemasukan udara/oksigen yang bisa dan akan merusak silase yang telah jadi karena terjadinya proses aerobic, lihat dip hase-6.<br />
Inilah sebabnya kenapa pembuatan dalam jumlah kecil dengan menggunakan silo yang banyak serta portable (seperti gentong plastik biru, atau kantong plastik), jauh lebih berdaya guna di banding dengan pembuatan dalam jumlah sangat besar dalam satu wadah/silo.<br />
Untuk itu ketahuilah jumlah kebutuhan ternak anda, lalu sesuaikan pembuatan silo, sehingga penggunaannya bisa sekali buka silo , isinya langsung habis di konsumsi sehingga tidak adalagi sisa yang harus di simpan.<br />
Penyimpanan sisa silase ini , di samping sangat merepotkan juga sangat riskan terhadap terjadinya proses pembusukan karena terjadi nya eksposur tehadap oksigen yang akan mengaktive kan bakteri aerob</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Penyiapan bahan baku silase serta penempatan pada silo:</span></span><br />
Bahan baku sebaiknya berasal dari tumbuhan atau bijian yang segar yang langsung di dapat dari pemanenan, jangan yang telah tersimpan lama – mengapa – lihat pada Prinsip Dasar Fermentasi Silase.<br />
1.Pemotongan atau Pencacahan Bahan Baku<br />
Ukuran pemotongan sebaiknya sekitar  5 centimeter.<br />
Pemotongan dan pencacahan perlu di lakukan agar mudah di masukan dalam silo dan mengurangi terperangkapnya<br />
ruang udara di dalam silo serta memudahkan pemadatan.<br />
Jika hendak menggunakan bahan tambahan, maka taburkan bahan tambahan tersebut kemudian di aduk secara<br />
merata,  sebelum di masukan dalam silo<br />
2.Masukan cacahan tersebut kedalam silo secara bertahap, lapis demi lapis.<br />
3.Saat  memasukan bahan baku kedalam silo secara bertahap, lakukan penekanan atau pengepresan untuk setiap<br />
lapisan agar padat. Kenapa harus di padatkan, karena oksigen harus sebanyak mungkin di kurangi atau di hilangkan<br />
sama sekali dari ruang silo – Lihat Prinsip Dasar Fermentasi Silase.<br />
4.Lakukan penutupan dengan serapat mungkin sehingga tidak ada udara yang bisa masuk kedalam silo &#8212; Lihat Prinsip<br />
Dasar Fermentasi Silase.<br />
5.Biarkan silo tertutup rapat serta di letakan  pada ruang yang tidak terkena matahari atau kena hujan secara langsung,<br />
selama tiga minggu<br />
6.Setelah tiga minggu maka silase sudah siap di sajikan sebagai pakan ternak. Sedangkan untuk menilai kualitas hasil<br />
pembuatan silase ini bisa di lihat di  Kriteria Silase yang baik, jika penilaian anda mendapatkan hasil 100 atau<br />
mendekati 100, maka cara and membuat silase sudah sangat baik, lakukan cara tersebut untuk pembuatan silase<br />
berikutnya.<br />
7.Silo yang tidak di buka dapat terus di simpan sampai jangka waktu yang sangat lama asalkan tidak kemasukan udara.<br />
8.Pemberian pada ternak yang belum terbiasa makan silase, harus di berikan sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan<br />
yang biasa dimakan. Jika sudah terbiasa secara bertahap dapat  seluruhnya diberi silase sesuai dengan kebutuhan.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Bagi Pemula:</span></span><br />
Bagi pemula yang belum pernah membuat fermentasi silase, akan menganggap proses ini adalah proses yang sulit dan serba canggih. Namun jika telah mengetahui prinsip dasarnya maka pembuatan silse ini bukanlah merupakan sesuatu yang sulit ataupun aneh serba canggih serta padat teknologi.<br />
Sedikit menyinggung sejarah di temukannya silase;<br />
Pada jaman dahulu kala di daratan Eropa ada seorang penggembala sapi, yang selalu dengan rajin dan penuh perhatian pada ternak yang di gembalanya. Dia sangat memperhatikan keberadaan beberapa anak sapi gembalaannya yang sering tidak kebagian hijauan saat merumput. Kemudian dia menyabit rumput, yang kemudian dia tempatkan pada kantung kain tebal yang selalu dia bawa sebagai tempat menyimpan bekal makannya. Rumput yang di bawanya kemudian dengan penuh rasa kasih sayang di berikan pada anak-anak sapi setibanya di kandang.<br />
Pada suatu ketika , setelah menyabit dan menempatkan rumput di dalam kantung tebalnya, anak–anak sapi tersebut selalu mendekatinya dan berusaha memakan rumput yang berada dalam kantung tersebut. Penggembala itu merasa kesal, menghardik agar anak sapi tersebut belajar merumput, kemudian dia mengubur kantung plastiknya di dalam tanah, agar anak sapi tersebut tidak manja dan mau berusaha lebih keras dalam merumput.<br />
Sebagai manusia biasa si penggembala tidak bisa menemukan kembali kuburan kantung plastiknya, saat mereka pulang ke kandang.<br />
Beberapa minggu kemudian saat menggembala pada tempat yang sama dimana dia mengubur kantung plastiknya, secara kebetulan dia menemukan kembali kuburan tersebut.<br />
Setelah di gali ulang, di buka dan dilihat isinya, ternyata rumput tersebut masih ada serta beraroma wangi dan berasa kemanisan. Dia coba berikan pada anak-anak sapi, ternyata mereka sangat menyukainya, demikian juga saat di berikan pada sapi dewasa lainnya.<br />
Sejak itulah proses fermentasi di kenal dan di pergunakan untuk mengawetkan hijauan.</p>
<p>Jika saat ini proses fermentasi silase terkesan serba scientific, itu karena para ilmuwan terus menyelidiki dan mengembangkannya , dengan menggunakan istilah-istilah yang ruwet njlimet serta susah di mengerti, walaupun tujuannya memudahkan bagi para peternak.</p>
<p>Bagi para pemula dan peserta yang belum pernah membuat fermentasi silase, lakukan tahapan pada penjelasan di atas, dengan sekala jumlah yang kecil terlebih dahulu.<br />
Gunakan kantung plastik bekas pembungkus sebagi silo, sebanyak sepuluh kantung silo atau kelipatan dari sepuluh. Perhatikan betul-betul jangan sampai ada yang bocor silo mini nya.<br />
Lima silo mini diperuntukan pembuatan silase tanpa bahan tambahan, lima lainnya untuk pembuatan silase dengan menggunakan bahan tambahan.<br />
Setiap minggu bukalah masing-masing satu silo yang memakai bahan tambahan dan yang tidak.<br />
Periksa dengan seksama hasilnya. Lakukan pencatatan dari apa yang anda temukan, bandingkan dengan penjelasan diatas.<br />
Pada minggu ke empat dan kelima, anda akan mampu memberikan skore atau penilaian hasil fermentasi yang anda lakukan , dengan melihat Kriteria Silase yang baik di bawah ini.<br />
Setelah melakukan berulang ulang, maka anda akan merasakan bahwa proses pembuatan silase adalah suatu proses yang penuh dengan nuansa seni yang tinggi, sehingga sangat menyenangkan untuk di lakukan.<br />
Ketekunan, kecepatan, kebersihan serta kepatuhan pada prosedur dan tahap pembuatan silase, akan menentukan perbedaan hasil yang di dapat.<br />
Penilai ahir dari produksi silase anda , adalah ternak anda, jika ternak anda menyukainya, pertumbuhannya lebih baik, serta anda tidak takut lagi menghadapi kelangkaan hijauan saat musim panas yang panjang. Berarti anda telah meraih satu tahap kesuksesan dalam hidup anda. Tiada yang menilai kesuksesan anda, tiada yang memberikan penghargaan pada kesuksesan anda ini, namun dengan pasti kesuksesan berikutnya telah menanti anda.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Kriteria Silase  yang baik </span></span>:</p>
<p>Indikasi dan penjelasan serta nilai keberhasilannya:</p>
<p>KEWANGIAN<br />
1. Wangi seperti buah-buahan dan sedikit asam, sangat wangi dan terdorong untuk mencicipinya.  Nilai 25<br />
2. Ingin mencoba mencicipinya tetapi asam, bau wangi                                                           Nilai 20<br />
3. Bau asam, dan apabila diisap oleh hidung,rasa/wangi baunya semakin kuat atau sama sekali  tidak ada bau. Nilai 10<br />
4. Seperti jamur dan kompos bau yang tidak sedap.  Nilai 0</p>
<p>RASA<br />
5. Apabila dicoba digigit, manis dan terasa asam seperti youghurt/yakult.   Nilai  25<br />
6. Rasanya sedikit asam  Nilai 20<br />
7. Tidak ada rasa           Nilai 10<br />
8. Rasa yang tidak sedap, tidak ada dorongan untuk mencobanya.             0</p>
<p>WARNA<br />
9. Hijau kekuning- kuningan.    Nilai 25<br />
10.Coklat agak kehitam-hitaman.   Nilai 10<br />
11.Hitam, mendekati warna kompos    Nilai 0</p>
<p>SENTUHAN<br />
12. Kering, tetapi apabila dipegang terasa lembut dan empuk. Apabila menempel ditangan karena baunya yang wangi tidak dicucipun tidak apa-apa. Nilai 25<br />
13. Kandungan airnya terasa sedikit banyak tetapi tidak terasa basah. Apabila ditangan dicuci bau wanginya langsung hilang. Nilai 10<br />
14. Kandungan airnya banyak, terasa basah sedikit (becek) bau yang menempel ditangan, harus dicuci dengan sabun supaya baunya hilang. Nilai 0</p>
<p>Jumlah nilai  =   Nilai wangi + Nilai rasa + Nilai warna + Nilai sentuh, angka 100 adalah yang terbaik</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Penyimpanan Silase:</span></span><br />
Silase dapat di simpan dalam waktu yang sangat lama selama tetap berada dalam keadaan kedap udara</p>
<p>di copy &#8211; paste dari http://forumsapi.sapiology.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkotagajah.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkotagajah.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkotagajah.wordpress.com&amp;blog=4396704&amp;post=24&amp;subd=cahkotagajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/11/07/pengawetan-hijauan-untuk-pakan-ternak-ruminansia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01a37ec4e2a9ab1aacbb0771611a79c3?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">cahkotagajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PAKAN TERNAK DENGAN SILASE</title>
		<link>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/08/08/pakan-ternak-dengan-silase/</link>
		<comments>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/08/08/pakan-ternak-dengan-silase/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 02:44:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkotagajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkotagajah.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[TINGKATKAN KUALITAS PAKAN TERNAK DENGAN SILASE KOMPLIT Problematika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti Indonesia adalah faktor suhu lingkungan yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak. Lingkungan yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan ‘enggan makan’ sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkotagajah.wordpress.com&amp;blog=4396704&amp;post=16&amp;subd=cahkotagajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TINGKATKAN KUALITAS PAKAN TERNAK DENGAN SILASE KOMPLIT<br />
</strong></p>
<p><a href="http://cahkotagajah.files.wordpress.com/2008/08/images4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-18" src="http://cahkotagajah.files.wordpress.com/2008/08/images4.jpg?w=136&#038;h=136" alt="" width="136" height="136" /></a></p>
<p><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Problematika umum u</span><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">saha peternakan di negara-negara tropis seperti</span><br />
<span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Indonesia adalah faktor suhu lingkungan yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak<br />
langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak. Lingkungan<br />
yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan ‘enggan makan’ sehingga<br />
secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh juga kurang.<br />
Padahal, asupan nutrient ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok<br />
<em>(maintenance)</em>, perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan bereproduksi. Implikasi dari kondisi<br />
asupan gizi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan<br />
pertambahan berat hidup <em>(average daily gain/ADG)</em> yang masih sangat jauh dari hasil<br />
yang diharapkan baik di tingkat peternakan rakyat maupun industri.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Faktor Kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu<br />
keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan.<br />
Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat<br />
menentukan keberhasilan budidaya peternakan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Ada 2 masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan<br />
ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan<br />
<em>nutrient</em>. Masalah pertama adalah bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah<br />
pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya. Tingginya<br />
kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek)<br />
yang sulit dicerna (McDonald et al., 2000). Masalah lainnya adalah<br />
ketersedian pakan yang tidak kontinyu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan<br />
terutama di musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan<br />
telah dilakukan. Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan<br />
adalah dengan memebuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi) dan awetan hijauan (silase).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Pengolahan bahan pakan dengan pengeringan sangat tergantung dengan<br />
musim/panas matahari sedangkan pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea)<br />
acapkali terjadi kausus toksikasi karena tingginya amonia. Teknologi yang sekarang<br />
berkembang adalah pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet (silase) tapi juga<br />
kadar nutrient sesuai dengan kebutuhan gizi ternak.<br />
<strong></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;"><strong>Kenapa dibuat Silase Komplit</strong></span></p>
<p align="justify"><a href="http://cahkotagajah.files.wordpress.com/2008/08/images5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-19" src="http://cahkotagajah.files.wordpress.com/2008/08/images5.jpg?w=143&#038;h=95" alt="" width="143" height="95" /></a></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Dikarenakan sebagian besar pakan sapi mengandung serat yang tinggi,<br />
pengolahan bentuk silase memiliki beberapa keunggulan. Silase merupakan hijauan<br />
yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80 persen).<br />
Keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak<br />
memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat<br />
pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga<br />
keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (perut) sapi. Konsep teknologi<br />
silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal <em>(single silage)</em> dan<br />
proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Dalam praktek di<br />
lapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan<br />
(pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak<br />
hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan.<br />
1) Lebih mudah dalam pembuatannya karena tidak perlu memerlukan tempat<br />
pemeraman yang <em>an-aerob</em>, cukup dengan <em>semi aerob.</em> 2) Kandungan gizi yang<br />
dihasilkan juga lebih tinggi, dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak sapi.<br />
3) Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak <em>(palatable)</em>.<br />
<strong></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;"><strong>Teknik Pembuatan Silase Komplit</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Prinsip pembuatan pakan komplit dalam bentuk silase ini seperti proses<br />
fermentasi pada umumnya. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari 3 kelompok<br />
bahan yakni kelompok bahan pakan hijauan, kelompok bahan pakan konsentrat dan<br />
kelompok bahan pakan aditif. Bahan pakan hijauan disini dapat berupa bahan pakan<br />
dari hijauan makanan ternak (HMT) seperti rumput<br />
gajah <em>(Pennisetum purpureum)</em>, rumput kolonjono <em>(Panicum muticum)</em>, Tanaman Jagung <em>(Zea mays)</em> dan rumput-rumput<br />
lainnya. Selain dari HMT, limbah-limbah dari sisa panen seperti jermai padi, jerami<br />
kedelai juga dapat digunakan. Bahan pakan ini sebagai sember serat utama.<br />
Kelompok bahan pakan konsentrat dapat berupa dedak padi/bekatul, onggok<br />
(ampas tapioka), ampas sagu, ampas tahu dan lain-lain.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Bahan pakan konsentrat ini selain untuk memperbaiki kandungan nutrisi dari<br />
pakan yang dihasilkan juga berfungsi sebagai substrat penopang proses fermentasi<br />
<em>(ensilase)</em>. Kelompok ketiga adalah bahan-bahan aditif. Bahan aditif disini dapat terdiri<br />
dari campuran urea, mineral, tetes dan lain-lain.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Rasio dari ketiga kelompok bahan tadi dapat mengacu pada formula 7:2:1 atau<br />
6:3:1 berturut-turut untuk Hijauan: Konsentrat:Aditif yang didasarkan pada persentase<br />
berat. Pencampuran dilakukan dengan urutan komponen bahan aditif dicampur dulu<br />
dengan konsentrat selanjutnya dicampurkan ke hijauan. Jika kondisi hijauan atau<br />
limbah petanian agak kering maka diperlukan tambahan air sehingga kadar air<br />
campuran mencapai <span style="text-decoration:underline;">+</span> 40 persen.<br />
<strong></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;"><strong>Persedian Musim Kemarau</strong></span></p>
<p><span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;">Sering dijumpai kasus ’kanibalisme’ sapi yakni sapi ’makan’ sapi. Hal ini terjadi<br />
karena kondisi persediaan pakan terutama di daerah yang tidak punya banyak<br />
tanaman HMT-nya. Pembuatan silase komplit dapat dijadikan salah satu cara untuk<br />
mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau sekaligus memperbaiki kualitas gizi<br />
pakan ternak. Pada kondisi hijauan melimpah di musim penghujan, bahan pakan<br />
hijauan baik berupa HMT maupun sisa tanaman pangan diperam dengan penambahan<br />
bahan konsentrat akan dapat tahan sampai 4-8 bulan. Persediaan pakan ini bisa<br />
digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak musim kemarau. Paling tidak dengan<br />
menerapkan teknologi ini dapat memberikan solusi pemenuhan pakan di musim<br />
kemarau sekaligus dapat mempertahankan kualitas asupan gizi untuk ternak.</span></p>
<p>oleh :<br />
A. Sofyan &amp; A. Febrisiantosa<br />
Peneliti UPT. BPPTK &#8211; LIPI, Yogyakarta<span style="font-family:helvetica;font-size:x-small;"><br />
<strong>Sumber</strong> : Majalah INOVASI Edisi 5 Desember 2007</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkotagajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkotagajah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkotagajah.wordpress.com&amp;blog=4396704&amp;post=16&amp;subd=cahkotagajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/08/08/pakan-ternak-dengan-silase/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01a37ec4e2a9ab1aacbb0771611a79c3?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">cahkotagajah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cahkotagajah.files.wordpress.com/2008/08/images4.jpg?w=121" medium="image" />

		<media:content url="http://cahkotagajah.files.wordpress.com/2008/08/images5.jpg?w=143" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KAMBING ETAWA</title>
		<link>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/08/05/kambing-etawa/</link>
		<comments>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/08/05/kambing-etawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 12:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkotagajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkotagajah.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[JENIS-JENIS KAMBING PERAH 1. Kambing Etawa Berasal dari wilayah Jamnapari India. Kambing ini paling popular di Asia Tenggara, termasuk tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Ciri-cirinya postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, bulu bagian paha sangat lebat, BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 60 kg. produksi susu mencapai 235 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkotagajah.wordpress.com&amp;blog=4396704&amp;post=10&amp;subd=cahkotagajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">JENIS-JENIS KAMBING PERAH</p>
<p>1. Kambing Etawa<br />
Berasal dari wilayah Jamnapari India. Kambing ini paling popular di Asia Tenggara, termasuk tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Ciri-cirinya postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, bulu bagian paha sangat lebat, BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 60 kg. produksi susu mencapai 235 kg/ms laktasi. Di Indonesia untuk perbaikan mutu kambing local maka menghasilkan kambing PE (Peranakan Etawa). Sentra terbesar kambing PE adalah di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.</p>
<p>2. Kambing Alpin<br />
Berasal dari Pegunungan Alpen Swiss, Keberadaan kambing jenis ini menebar ke seluruh daratan eropa. Ciri-ciri kambing Alpen telinga berukuran sedang dan megarah ke atas dengan warna bulu dominan putih, hitam, coklat. BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 65 kg. Produksi susu 600 kg/ms laktasi</p>
<p>3. Kambing Saanen<br />
Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss.Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominant putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Tidak bertanduk dan termasuk tipe dwiguna. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.</p>
<p>4. Kambing Toggenburg<br />
Berasal dari Toggenburg Valley (wilayah timur laut Swiss). Ciri-ciri telinga tegak menghadap ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua/coklat dengan bercak putih. BB jantan 80 kg betina 60 kg. Yang paling menonjol adalah kehalusan bulunya. Produksi susu 600 kg/ms laktasi.</p>
<p>5. Kambing Anglo Nubian<br />
Berasal dari Wilayah Nubia (Timur Laut Afrika). Ciri-ciri telinga menggantung dan ambing besar, warna bulu hitam, merah, coklat, putih atau kombinasi warna2 tersebut. BB jantan 90 kg, betina 70 kg. Produksi susu 700 kg/ms laktasi.</p>
<p>6. Kambing Beetal<br />
Berasal dari Punjab India, Rawalpindi dan Lahore (Pakistan). Diduga merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing local karena cirri fisiknya sangat menyerupai Etawa. Produksi susu 190 kg/ms laktasi.</p>
<p>Manfaat dan Khasiat susu kambing</p>
<p>Selain dijual dalam bentuk segar, susu kambing juga dapat diolah menjadi produk lain seperti yogurt, keju, mentega. Butiran lemak susu kambing berukuran antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi, tetapi jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing sehingga susu kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, serta tidak menimbulkan diare pada orang yang mengkonsumsinya. . Susu kambing juga tidak mengandung karoten, sehingga warna susu kambing lebih putih daripada susu sapi.<br />
Khasiat susu kambing antara lain untuk terapi TBC, membantu memulihkan kondisi orang yang baru sembuh dari sakit, mempu mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Untuk meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah. Kandungan gizi susu kambing dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu keseimbangan proses metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, membantu pembentukan sel darah merah dan jaringan tubuh. Baik bagi wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi setelah haid, kekurangan darah (anemia), kehamilan serta pendarahan setelah melahirkan. Kandungan mineralnya memperlambat proses osteoporosis.</p>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_8CKMY1koPM0/SA7AO0MLfVI/AAAAAAAAADM/xlmQZhGqvJ8/s1600-h/susu.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;margin:0 auto 10px;" src="http://bp2.blogger.com/_8CKMY1koPM0/SA7AO0MLfVI/AAAAAAAAADM/xlmQZhGqvJ8/s320/susu.JPG" border="0" alt="" /></a></p>
<p>Faktor yang mempengaruhi komposisi susu kambing</p>
<p>1. Variasi antar jenis kambing<br />
Dengan aneka karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya maka akan terdapat variasi dalam jumlah produksi susunya.<br />
2. Variasi Inter jenis kambing<br />
Setiap indivudi dari jenis/bangsa yang sama memiliki variasi dalam jumlah susu yang dihasilkan walopun jenis atau bangsa sama, tetapi jika umur dan masa laktasi berbeda maka jumlah produksi susu juga berbeda.</p>
<p>3. Faktor genetik<br />
Adalah faktor yang diturunkan dari nenek moyang dan memiliki sifat kebakaan.</p>
<p>4. Musim<br />
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing yang beranak pada musim gugur memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi disbanding kambing yang beranak musim panas.</p>
<p>5. Umur<br />
Produksi susu kambing meningkat seiring bertambahnya umur dan mencapai puncak pada saat berumur 5-7 tahun, yakni pada masa laktasi ke-3 atau ke-5. selanjutnya produksi susu akan menurun.</p>
<p>6. Lama masa laktasi<br />
Dalam satu jenis atau bangsa kambing perbedaan lama masa laktasi menyebabkan perbedaan jumlah total produksi susu selama masa laktasi. Semakin lama masa laktasi akan semakin banyak total produksi susu yang dihasilkan. Korelasi ini tidak berarti akan semakin tinggi keuntungan yang diraih.</p>
<p>7. Faktor perawatan dan perlakuan<br />
Suasana kandang yang nyamn sangat mendukung utnuk berproduksi secara optimal.</p>
<p>8. Pengaruh masa birahi dan kebuntingan<br />
Kambing yang dikawinkan kembali setelah 3 bulan beranan tingkat produksi susunya akan lebih cepat menurun disbanding kambing yang sedang laktasi tetapi tidak bunting. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi, serta tingginya kebutuhan kambing akan zat-zat makanan utnuk mendukung [proses fisiologis dalam tubuhnya.</p>
<p>9. Frekuensi pemerahan<br />
Berdasar hasil penelitian kambing yang diperah 2x sehari total produksi susunya lebih tinggi daripada kambing yang diperah 1x sehari.</p>
<p>10. Jumlah anak dalam sekali melahirkan.<br />
Produksi susu kambing perah yang beranak 2 ekor dalam 1 kali melahirkan biasanya 20-30% lebih tinggi dari kambing perah yang hanya beranak 1 ekor.penyebabnya adalah rangsangan menyusui dari anak kambing (cempe) yang dilahirkan</p>
<p>11. Pergantian pemerah<br />
Kambing ternmasuk hewan yang tidak terlalu mudah beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berubah drastic. Pergantian pemerah akan menyebabkan kambing mengalami stress.</p>
<p>12. Lama masa kering<br />
Utnutk mendorong produksi beranak 3x dalam 2 tahun biasanya kambing dikawinkan kembali setelah beranak 3 bulan atau saat pertama birahi muncul. Dalam kondisi demikian kambing membutuhkan waktu untuk menjalani masa kering selama 2 bulan agar memiliki kesempatan untuk kembali pulih kondisinya.</p>
<p>13. Faktor hormonal<br />
Hormone yang berperan dalam produksi susu adalah laktogen.penyuntika n hormone ini pada saat laktasi menyebabkan produksi susu meningkat.</p>
<p>14. Faktor pakan<br />
Produksi susu akan mencapai optimal jika pakan yang diberikan dan dikonsumdi oleh kambing jumlah dan kualitasnya cukup. Komposisi hijauan dan konsentrat harus seimbang.</p>
<p>15. Pengaruh penyakit<br />
Kambing perah yang sedang laktasi produksi susunya akan menurunjik terserang penyakit. Bahkan bisa langsung terhenti. Efek obat yang diberikan juga akan berpengaruh terhadap produksi dan kualitas susu yang dihasilkan.</p>
<p>Pemberian pakan</p>
<p>Secara alamiah kerena kehidupan awalnya di daerah pegunungan kambing akan lebih menyukai rambanan (daun-daunan) daripada rumput. Kambing termasuk jenis jewan ruminansia. Ruminansia tidak terlalu bergantung pada kadar zat-zat gizi pakan yang dikonsumsinya, karena proses di dalam rumen mampu menghasilkan zat gizi yang mudah diserap tubuh. Kadang pemberian pakan protein tinggi tidak efisien, karena protein tersebut mudah terurai dan terfermentasi oleh mikrobia rumen.<br />
Ruminansia mampu mensintesis asam amino dari unsure yang dihasilkan oleh berbagai proses yang terjadi dalam rumen. Ruminansia mampu mengkonsumsi urea dlam jumlah terbatas yang di dalam rumen akan terurai menjadi amoniak dan merupakan bahan utama pembentuk asam amino. Selain bahan pakan yang dikonsumsi kebutuhan tubuh terhadap protein juga dipenuhi dari mikrobia rumen.</p>
<p>1 Bahan pakan<br />
Secara umum kebutuhan zat pakan bagi kam,bing dikelompokkan dalam 2 golongan besar sumber pakan yaitu bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein.<br />
Bahan pakan sumber energi terdiri dari bahan pakan yang berupa biji-bijian dan sisa serealia (mis : tepung, jagung dan dedak padi), umbi- umbian (mis : tepung singkong, onggok, ubi jalar) dan hijauan (mis : rumput setaria dan rumput lapang). Bahan pakan sumber protein bisa berupa biji-bijian misal tepung bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap, biji kapas atau tepung2 yang berasal dari hewan atau bagian tubuh hewan seperti tepung darah dan tepung ikan. Beberapa contoh hijauan yang merupakan sumber protein seperti daun gliricidae, turi, lamtoro, centrocema, dan kacang gude.<br />
Pakan hijauan dalam keadaan segar umumnya lebih disukai kambing dibanding dengan pakan dalam keadaan layu atau kering. Namun ada beberapa jenis hijauan yang dalam keadaan segar masih mengandung racun yang membahayakan kehidupan kambing seperti gliricidae, sebaiknya hijauan jenis tersebut dilayukan dulu selama 2-3 jam di sinar matahari atau diinapkan semalam sebelum diberikan pada ternak. Pemberian hijauan yang bervariasi akan memberi dampak yang lebih baik.</p>
<p>Kebutuhan kambing akan bahan pakan sangat tergantung dari kondisi fisiologis kambing tersebut, secara umum kambing membutuhkan hijauan segar sebanyak 10% dari berat badan atau berat hidupnya. Misal beratnya 30 kg maka kambing tersebut membutuhkan 3 kg hijauan/hr. Perlu diketahui bahwa tidak semua bagian hijauan disukai oleh kambing.beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian hijauana yang dicincang sekitar 5-10 cm akan lebih efisien dikonsumsi oleh kambing, karena bentuknya yang kecil-kecil.</p>
<p>Contohnya batang muda jika diberikan secara utuh kurang disukai oelh kambing tetapi dengan dicincang akan lebih mudah tercampur dengan jenis pakan yang lain sehingga memungkinkan kambing untuk memakannya.</p>
<p>2. Pemberian konsentrat<br />
Pakan sebagai sumber protein merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh kambing yang sedang laktasi, karena proses pembentukan susu membutuhkan suplai protein yang lebih tinggi. Sistem pencernaan rumen seringkali menjadi penyebab kurang efektifnya pemberian konsentrat dengan kadar protein tinggi. Penyebabnya adalah konsentrat tersebut akan diurai atau difermentasi oleh bakteri dan mikroba lain dalam rumen, sehingga pprotein terdegradasi sebelum diserap tubuh. Untuk itu pemberian konsentrat perlu disiasati. Waktu pemberian yang terbaik adalah saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijauan, tetapi belum kenyang. Pada saat itu, rumen akan dipenuhi oleh hijauan, sehingga aktivitas rumen sedang tinggi-tingginya. Pemberian konsentrat saat seperti ini bisa menghindari proses fermentasi bahan pakan dalam rumen sehingga keberadaan zat-zat makanan dapat dipertahankan. Hal ini disebabkan konsentrat tidak terlalu lama berada dalam rumen.</p>
<p>Beberapa bahan konsentrat yang biasa diberikan adalah bekatul, bungkil kedelai, ampas tahu, bungkil kelapa atau campuran dari beberapa konsentrat. Misal 62% bekatul, 20% ampas tahu, 15% bungkil kedelai, 1% garam dapur, dan 2% tepung tulang. Jumlah pemberian sebanyak 0,5- 0,6 kg/ekor dan diberikan dalam bentuk bubur(dicampur dengan air). Usahakan konsentrat agar habis dalam waktu singkat untuk menghindari tumbuhnya jamur yang bias menimbulkan penyakit.</p>
<p>3. Vitamin dan Mineral<br />
Selain bahan pakan sumber protein dan sumber energi, kambing memiliki kebutuhan akan vitamin dan mineral yang sebenarnya bisa tercukupi dengan pemberian pakan yang bervariasi. Jika kurang bervariasi sebaiknya dilakukan pemberian zeolit, garam dapur, atau tepung tulang sebagai sumber mineral dengan dosis tidak lebih dari 5 permil (5/1000) untuk setiap 1 kg berat badan. Vitamin dibutuhkan kambing dalam jumlah sedikit tetapi sangat berpengaruh dalam proses metabolisme dan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit. Pemberian garam dapur selain untuk memenuhi kebutuhan mineral dapat juga untuk meningkatkan nafsu makan kambing. Pemberiannya sebaiknya tidak terjadwal, tetapi sudah dalam keadaan tersedia setiap saat di dalam kandang. Penempatannya bisa di dalam ember khusus yang digantung di dekat tempat hijauan setinggi 50-90 cm dr atas lantai.</p>
<p>4. Air<br />
Sebanyak 70% tubuh kambing berupa air. Kekurangan air yang mencapai 20% menyebabkan kambing dehidrasi. Makanya ketersediaan air merupakan suatu hal yang mutlak. Secara umum seekor kambing membutuhkan air sebanyak 1,5-2,5 liter/hari. Sebaiknya air disediakan dalam jumlah yang tidak terbatas artinya jika air di wadahnya tinggal sedkit segera ditambah lagi.</p>
<p>5. Penggunaan UMB (Urea Molasses Block)<br />
UMB mengandung non protein nitrogen (NPN) yang dalam rumen akan mengaktifkan mikroba rumen dan sintesis menjadi asam amino. UMB juga terdiri dari berbagai bahan penyusun lainnya seperti molasses, dedak padi, dan tepung tapioka (sebagai sumber energi), bungkil kedelai (sumber protein), garam dapur, tepung tulang dan kapur (sumber mineral). Pemberian UMB 4 gr/hari/kg berat badan mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian kambing dan meningkatkan akseptabilitas kambing terhadap limbah pertanian dengan serat kasar cukup tinggi seperti kulit dan tongkol jagung.</p>
<p>Sumber: dunia maya</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkotagajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkotagajah.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkotagajah.wordpress.com&amp;blog=4396704&amp;post=10&amp;subd=cahkotagajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkotagajah.wordpress.com/2008/08/05/kambing-etawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01a37ec4e2a9ab1aacbb0771611a79c3?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">cahkotagajah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp2.blogger.com/_8CKMY1koPM0/SA7AO0MLfVI/AAAAAAAAADM/xlmQZhGqvJ8/s320/susu.JPG" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
